Bayaran dari Begadang dan Sakit Leher

Selepas maghrib dapet pesan yang agak mengejutkan dari departemen, isinya mengabarkan bahwa aku mendapat predikat juara II lomba desain logo Dies Natalis departemen yang ke-64. Wow! Bagiku, ada dua part terfavorit dari membuat sebuah karya, pertama ketika karya itu lahir, dan kedua ketika dapat diterima oleh banyak orang. Apresiasi dari mereka yang bikin aku semangat untuk bikin lagi dan lagi. Walaupun tiap nge-desain leher suka ngeluh minta udahan karena bikinnya bisa berjam-jam, untungnya masih mau diajak sabar “iya, iya, edit dikit lagi ya, abis itu rebahan dehh janji”, begitulah setidaknya percakapanku dengan diri sendiri dalam rangka menego si tulang leher. Belum lagi mata yang suka pedes karena harus natap layar dalam waktu lama dan menahan kantuk. Abisnya kalo desain sukanya malem sih pas orang rumah udah pada tidur karena suasananya lebih hening sekaligus bisa me time sama diri sendiri.

Balik lagi ke cerita bahagiaku malam ini. Meski belum juara I, tapi aku tetep bersyukur banget. Bukan karena nominal hadiahnya yang bikin aku seneng dan senyum-senyum hingga pagi, tapi karena akhirnya aku bisa bikin diriku percaya bahwa karyaku layak mendapat penghargaan, dan itu keren banget! Setidaknya bagiku. Kenyataan bahwa aku menerima hasil yang diperoleh dari tanganku sendiri adalah hal yang mengharukan! Lagi-lagi, setidaknya bagiku. Perasaan ini adalah bayaran dari begadang dan sakit leher yang kurasakan malam itu untuk menarungkan ide dengan layar selama berjam-jam. Mungkin benar ya, kunci dalam membuat sebuah karya adalah dengan selalu merasa kurang, kemudian revisi, revisi, dan revisi hingga akhirnya menjadi layak. Aku percaya bahwa hasil tergantung pada usaha yang kita berikan. Maka semoga ini menjadi pertanda baik untuk melangkah kedepan

source: IG psdk fisipol UGM

Perjalananku mendalami desain diawali dengan hal yang sederhana. Sesederhana mendapat tugas dari pak guru untuk membuat sebuah tokoh kartun menggunakan corel draw pada pelajaran seni budaya saat kelas 10. Tentu bagiku saat itu bukanlah hal yang mudah. Tapi sejujurnya tugas itulah yang mengenalkanku pada dunia yang serba asyik ini, bukannya mengeluh aku malah semangat untuk mengeksplorasi tools-tools yang ada disana. Maklum, ketika masuk SMA aku baru kenal dengan software canggih seperti itu, sebelumnya aku cuma tau microsoft word, excel, dan soliter. Karena keterbatasan praktik dan waktu yang diajarkan di sekolah, maka aku memuaskan diri dengan mencari informasi dan berlatih secara otodidak. Jika ada waktu senggang aku sering menonton berbagai video tentang tutorial vector, rasanya sungguh satisfying. Tentu setelahnya aku mulai mempraktikan apa yang telah kutonton, dan yaaa seperti yang bisa ditebak, hasilnya ancur ga karu-karuan. Ingat sekali, dulu orang pertama yang kubuatkan vectornya adalah kakak kelasku yang aku kagumi, supaya semangat pikirku. Dan sampai sekarang aku selalu kasihan setiap lihat hasilnya kembali. Hahaha.

Perjalanan ya perjalanan, akan ada banyak hal yang ditemui di depan sana seiring dengan langkah yang kita tapaki. Perjalanan menemukan hobiku ini pada akhirnya membuatku percaya bahwa dalam hidup semuanya adalah tentang proses. Seperti bayi yang harus merangkak, berdiri, berjalan, kemudian berlari, pun demikian dengan keahlian. Aku tidak menyebut diriku ahli. Mungkin jika diibaratkan bayi, sekarang aku masih belajar berdiri, alias masih banyak banget tenaga, waktu, dan pikiran yang harus aku keluarkan untuk bisa berjalan dan berlari. Tapi itu bukan suatu hal yang buruk, aku senang melakukan hal yang membuatku senang dan itu yang bikin prosesnya ga terasa berat. Selama 6 tahun sudah aku berproses di bidang desain digital, ya walaupun sekedar hobi, tpi bagiku semuanya lebih dari itu. Aku berlatih dengan berbagai cara, mulai dari bikin kartun tokoh idola, bikin request-an temen, bantu konten organisasi, yaa semuanya bikin aku seneng. Kemudian aku mulai bersedia untuk mengerjakan pesanan dari beberapa orang dekat, tentu dibayar. Jujur, hal itu butuh keberanian karena aku khawatir dengan ketidakpuasan mereka, namun alhamdulillah sejauh ini lancar walau revisi berkali-kali, hahaha. Hingga sampailah pada hari ini, dimana aku dapat membuktikan pada diriku sendiri bahwa kemampuan ku dalam mendesain layak untuk dihargai. Itulah sebabnya aku senang sekali berhasil menjadi juara pada event kali ini, walaupun juara dua tapi sama sekali tidak masalah, karena aku tetap senang dan bersyukur. Terimakasih yaa Tuhan, terimakasih aku, terimakasih orang-orang terdekatku, termakasih departemen, terimakasih alam, terimakasih, terimakasih, terimakasih. Semoga selalu baik, Amiin. Jangan lupa untuk ‘love what you do, do what you love’. Dadaah~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s