Dengar Mendengar, Belajar Mempelajari

Baru saja bercakap via telepon dengan dua manusia spesial yang diutus Tuhan untuk menjadi teman saya di kampus. Kami bertiga terpisah jarak yang cukup jauh, lebih tepatnya saya yang paling jauh karena sedang tak diperantauan. Yah, setelah kurang lebih setahun tidak bertatap wajah, kami jarang sekali bercakap lidah alias hanya sebatas chat melalui grup whatsapp (itu pun jarang). Hal yang patut disyukuri secara penuh adalah ketika dapat kembali bercengkrama dengan mereka, manusia2 yang selalu membantu saya menjalani kehidupan kampus yang tak slamanya indah. Mengetahui kabar mereka yang baik-baik saja juga merupakan satu yang tak kalah penting untuk disyukuri.

Berawal dari tujuan membahas tugas dari suatu matkul, percakapan kami mulai merambah memasuki masalah pribadi dalam kehidupan yang abcd ini. Satu teman memulai dengan sambat terkait pertemuannya minggu kemarin. Teman lain menimpali dengan keluhan hidupnya yang tanpa pertemuan karena tak ikut kumpulan apa-apa. Ya tak apa, toh hidup tak harus sama. Kemudian saya menyinggung sedikit kehidupan seorang teman yg sebenarnya tak ada hubungannya juga, sih, dengan kami. Hanya saja dia sering mengunggah kesibukannya di sosial media sehingga dapat membuat beberapa orang menjadi gerah. Tanpa menduga, satu teman menanggapinya dengan jawaban yang agak menampar dan bikin saya malu sendiri. Yes, intinya ia cerita bahwa teman yg kami bicarakan itu, sebut saja rosa, pernah curhat dan meminta tanggapan padanya melalui pesan whatsapp. Ketika menutup percakapan, Rosa berterimakasih dengan temanku dan merasa senang karena akhirnya bisa bercerita dengan orang lagi. Ternyata selama ini ia memiliki kekhawatiran dapat mengganggu waktu orang lain apabila bercerita tentang dirinya. Dari situ saya merasa salah dan sadar betapa tidak dewasanya karena melihat seseorang hanya dari apa yang terlihat. Saya lupa mengerti manusia. Astatank! Memang mulut kadang masih suka nyakitin orang:( maaf ya.

Seorang dosen pernah berkata bahwa cobalah untuk selalu melihat sebuah realitas dibalik suatu fakta dalam kehidupan, bijak sekali bukan? Dan saya merasa egois ketika tidak dapat melihat sisi lain dari kehidupan seseorang. Saya belajar bahwa ternyata orang yang kelihatan haha hihi, sibuk sana sibuk sini, selalu produktif dan banyak bertemu manusia, nyatanya tetap bisa merasa kesepian. Manusia tetaplah manusia. Tak ada bahagia selalu atau sedih selalu, keduanya berdampingan, baik dan buruknya. Tidak ada yang benar-benar tau perasaan seseorang, maka egois sekali apabila menilai mereka tanpa tau keadaan sebenarnya. Toh, kita ini siapa boleh menjustifikasi manusia lain? Maka benar pepatah bilang bahwa hidup selalu tentang belajar mempelajari. Belajar mengerti, memahami, dan memaklumi seseorang itu kurasa perlu supaya tidak julid. Beruntung sekali saya dilingkupi pertemanan yang positif dan selalu mengajarkan banyak hal. Senang bisa bercerita lagi, saling dengar satu sama lain. Makasih ya, Jat, Rul, karena deep talk kita membuat tugas ini terasa tidak ada apa-apanya. Sampai jumpa di kehidupan yang nyata, sehat selalu!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s